Minggu, 16 September 2012

DONGGALA donggala'ta (dalam proses persiapan terbit)

Kita menyadari keberadaan buku-buku tentang Donggala yang ditulis generasi muda dalam perspektif masa kini memang masih sangat kurang. Padahal sangatlah penting guna menambah khazanah pustaka daerah dengan pengayaan buku-buku muatan lokal seiring adanya gerakan memajukan literasi Indonesia. Untuk itu, saya atas nama Pemerintah Kabupaten Donggala menyatakan menyambut baik buku ini dan memberi apresiasi kepada saudara Jamrin Abubakar yang menulis buku Donggala donggala’ta.


Diharapkan buku ini dapat menambah wawasan pembaca umumnya dan masyarakat Donggala khususnya sebagai warga yang menjadi bagian dari kota Donggala. Semoga buku ini dapat memberi inspirasi dan spirit bagi siapa saja yang membacanya, terutama bagi generasi muda yang nyaris tidak lagi mengetahui di antara persitiwa sosial budaya dan sejarah di kota Donggala. Meskipun buku ini belum banyak mengungkap tentang kehidupan dan dinamika sebuah zaman yang pernah mengalami masa keemasan, tetapi sebagai langkah awal penulisnya telah berupaya memperkenalkan kembali tentang Donggala yang kita cintai.

Senin, 03 September 2012

BUKU-BUKU SENI DAN BUDAYA SULAWESI TENGAH







No
BUKU-BUKU SENI DAN BUDAYA SULAWESI TENGAH



KATEGORI
PENULIS



1
MISTERI NEGERI SERIBU MEGALIT
Budaya
JAMRIN ABUBAKAR





























2
MENGGUGAT KEBUDAYAAN TADULAKO DAN DERO POSO 
Budaya
JAMRIN ABUBAKAR





3
MENULIS ZAMAN DENGAN IFTITAH 
Biografi/ Jurnalistik
JAMRIN ABUBAKAR





4
ALIMIN LASASI DEMI PANGGUNG TEATER 
Biografi/ Kesenian
JAMRIN ABUBAKAR





5
GURU TUA PAHLAWAN SEPANJANG ZAMAN
Biografi dan Sejarah
JAMRIN ABUBAKAR





6
9 TOKOH BERSEJARAH SULAWESI TENGAH
 Biografi dan Sejarah 
JAMRIN ABUBAKAR





7
SONETA COMBERAN
Sastra (Puisi)
NOORAL BASO





8
LUKA PERADABAN
Puisi
MAS'AMAH AMIN SYAM





9
ILUSTRASI POLITIK KANCIL (Kumpulan Tulisan)
Seni dan Budaya
MAS'AMAH AMIN SYAM





10
CATATAN SEORANG PEJALAN KAKI
Sastra (Puisi)
TS. ATJAT





11
SOYO LEI (Kumpulan Puisi Kaili Ledo dan Rai)
Sastra Kaili
TS. ATJAT





12
PENJAGA DIAN
Sastra
SATRIES






Sabtu, 11 Agustus 2012

GONENGGATI Kumpulan Cerita Rakyat dari Donggala


GONENGGATI
Kumpulan Cerita Rakyat Dari Donggala




SAMBUTAN BUPATI DONGGALA


BUKU ini merupakan kumpulan legenda atau cerita rakyat yang diangkat dari tradisi masyarakat Kabupaten Donggala yang selama ini hampir punah, sehingga penulisan dan penerbitan akan memberi sumbangsih pemikiran dan inspirasi bagi pembaca.

Karena itu atas nama Pemerintah Kabupaten Donggala, saya sangat menghargai dan menyambut baik dengan terbitnya buku GONENGGATI Kumpulan Cerita Rakyat dari Donggala yang ditulis saudara Jamrin Abubakar. Bukan saja menambah khazanah pustaka daerah yang masih minim, tapi merupakan  bentuk kepedulian dan pelestarian terhadap cerita rakyat yang terdapat di Kabupaten Donggala. Apalagi daerah ini memang sangat kaya dengan cerita rakyat yang belum banyak diangkat dalam bentuk tulisan, sehingga terancam punah di tengah derasnya pengaruh budaya modern.

Karena itu Pemerintah Kabupaten Donggala merekomendasi agar buku ini dapat dijadikan bacaan muatan lokal atau bahan pengayaan bagi siswa sekolah dasar maupun siswa sekolah menengah. Terpenuhinya bacaan lokal semacam ini merupakan  upaya pelestarian kearifan lokal yang patut diketahui kembali bagi generasi muda, tak terkecuali bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual. Apalagi dengan berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Pemerintahan Gonenggati di Donggala, maka sangat relevan dengan adanya semangat untuk tetap mempertahankan spirit nilai-nilai kearifan lokal disamping  nilai-nilai universal.
Dengan demikian, semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya masyarakat Kabupaten Donggala.


Donggala, 2012


Bupati Donggala


Drs. H. Habir Ponulele, MM


Secara simbolis, penulis sedang menyerahkan buku GONENGGATI Kumpulan Cerita Rakyat dari Donggala kepada Bupati Donggala, Habir Ponulele, Jumat (10 Agustus 2012)


KATA PENGANTAR
KEPALA DINAS PENDIDIKAN
KABUPATEN DONGGALA


DONGGALA salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah sejak dulu memiliki kekayaan cerita rakyat atau legenda yang menjadi tradisi lisan di tengah masyarakat. Tetapi legenda tersebut masih sangat sedikit yang dipublikasikan atau dibukukan dibanding yang tersebar dalam bentuk tuturan dari mulut ke mulut.
Padahal di satu sisi penutur tradisi lisan cenderung mulai berkurang, terutama pada masyarakat perkotaan, sehingga dikhawatirkan suatu saat banyak cerita rakyat terancam punah dan tak diketahui generasi mendatang. Karena itu kehadiran buku yang ditulis Jamrin Abubakar sebagai hasil eksplorasi dari beberapa komunitas di wilayah Kabupaten Donggala dari penuturnya, sangatlah bermanfaat dalam menambah bahan bacaan muatan lokal untuk kalangan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah.

Kehadiran buku yang berjudul Gonenggati: Kumpulan Cerita Rakyat Dari Donggala, maka Dinas Pendidikan Kabupaten Donggala meyambut baik dengan mengintegrasikan dalam salah satu program. Yaitu dapat dijadikan salah satu bahan pengayaan di tengah keterbatasan buku-buku cerita rakyat yang bernuansa daerah setempat. Buku ini merupakan rekonstruksi cerita yang sudah lama terpendam dan memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diperkenalkan kembali kepada anak didik.

Dengan demikian, atas nama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Donggala, saya mengucapkan terima kasih pada penulis buku ini. Harapan saya, kiranya menjadi sumber inspirasi bagi pembaca terutama bagi peserta didik baik tingkat dasar maupun tingkat menengah, khususnya dalam wilayah Kabupaten Donggala.
   


 Donggala, 2012

             
DINAS PENDIDIKAN 
KABUPATEN DONGGALA


H. Aidil Noor, SH, M.Si
Kepala



DAFTAR ISI


•    Sambutan Bupati Donggala
•    Kata Pengantar Kepala Dinas Pendidikan  Kabupaten Donggala

•    Ringkasan Cerita

1.    Gonenggati
2.    Legenda Yamamore di Pusentasi
3.    Legenda Terjadinya Danau Dampelas
4.    Sang Putri dan Bengga Bula
5.    Gadis Dalam Pohon
6.    Asal Mula Kaledo

Donggala Dalam Lintasan Sejarah Dunia

Sumber Penulisan
Riwayat Hidup Penulis



RINGKASAN CERITA


GONENGGATI:
Seorang raja perempuan Kaili yang kharismatik dan berpikiran demokratis mempersatukan negeri-negeri Kaili dalam keadatan Pitunggota. Ia berkuasa di Kanggihui (Kanggirui) yang pusatnya di atas pegunungan (kini masuk wilayah Kabonga, Kecamatan Banawa).

LEGENDA YAMAMORE DI PUSENTASI:
Yamamore putri seorang Raja Towale melarikan diri dari istana demi menghindari perkawinan paksa. Dalam pelariannya, ia bersembunyi dengan cara mencemplungkan diri ke dalam telaga air asin. Maka sejak itulah Yamamore menghilang dan tempatnya dinamai pusat laut atau Pusentasi.

LEGENDA TERJADINYA DANAU DAMPELAS:
Berawal dari keinginan Sang Pelaut menaklukkan Negeri Dampelas, akhirnya terjadi perlawanan dari Mahadiyah. Peperangan pun terjadi hingga telaga yang dijadikan area pertarungan kemudian menjadi Danau Dampelas di Desa Talaga.

SANG PUTRI DAN BENGGA BULA:
Putri cantik dari Tanah Kaili diasingkan karena terserang penyakit cacar di tubuhnya. Dalam pengasingan itulah ia dikejar dan dijilat seekor Bengga Bula (kerbau putih), sehingga kulitnya sembuh. Sejak itu pula pihak raja dan keturunannya pantang makan daging kerbau putih.

GADIS DALAM POHON:
Perburuan yang dilakukan Sadomo, pemuda dari tanah Kaili sampai ke dataran Kulavi membuatnya tersesat di tengah hutan. Meskipun tidak mendapatkan binatang buruan, tapi seorang gadis cantik keluar dari dalam pohon yang kemudian dijadikan istri dan menjadi asal-usul suku Kulavi di Kabupaten Sigi.

ASAL MULA KALEDO:
Pada saat pembagian daging sapi, orang Kaili dating terlambat sehingga hanya mendapatkan tulang. Tana rasa kecewa, mereka kemudian memasak dengan eksperimen dengan hasil tak kalah enaknya. Sejak itulah Kaledo (kaki lembu donggala) jadi masakan favorit.

Sabtu, 28 Juli 2012

WAGUB SULTENG DUKUNG PEMBENTUKAN ISBI PALU

Oleh: Jamrin AB
WAKIL Gubernur Sulawesi Tengah, Sudarto menyatakan dukungan untuk perintisan berdiriannya Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Palu guna meningkatkan penggalian dan pengembangan kesenian daerah. Yaitu ISBI dibawah naungan dan binaan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sebagaimana beberapa kota di Indonesia saat ini sedang berjalan guna pengembangan sejumlah potensi seni daerah secara akademik.
Dukungan tersebut diungkapkan Sudarto di ruang kerjanya dalam pertemuan dengan guru besar seni dari ISI Yogyakarta, Yudiaryani dan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sulteng, Siti Norma Madjanu serta Hapri Ika Poigi perwakilan seniman. Dalam pertemuan tersebut, Yudiaryani memaparkan tentang pentingnya pendirian ISBI di Kota Palu, yang menurutnya kota ini sangat potensial sekaligus sangat strategis berada di tengah Pulau Sulawesi, sehingga untuk pengembangan keseniannya lebih maju secara akademik sangat memngkinkan.
Karena itu pula Sudarto meminta Kadisbudpar Sulteng, Siti Norma Mardjanu dan Hapri Ika Poigi selaku seniman dan akademisi untuk menjejaki berbagai pensyaratan dan peluang untuk perintisan berdirinya ISBI Palu. “Kalau memang memungkinkan untuk berdirinya ISBI Palu, maka kami sebagai pemerintah daerah sangat mendukung dan akan menfasilitasi. Hal ini sangat penting segera ditindaklanjuti dengan menyusun suatu dokumen untuk itu dan kemudian dibicarakan bersama Pak Gubernur,” kata Sudarto.
Sementara itu Kadis Budpar Sulteng, Siti Norma Mardjanu  menyatakan kesiapannya mengawali pertemuan dengan sejumlah pihak terkait untuk menindaklanjuti harapan Wagub Sudarto. Menurut Norma Mardjanu wacana untuk berdirinya sekolah tinggi seni di Palu sudah ada beberapa waktu lalu. Namun hingga kini belum terealisasi, sehingga adanya dukungan dari pemerintah daerah dan guru besar dari ISI Yogyakarta akan ditindaklanjuti kembali. 
“Dari hasil pengamatan kami, Sulawesi Tengah sangat kaya dengan keberagaman etnisnya yang berarti beragam pula keseniannya. Belum lagi alamnya juga potensinsial sehingga kalau dibuka ISBI maka peluang pengembangan itu sangat besar,” ungkap guru besar ISI Yogya, Yudiaryani.
Menurutnya, bagi ISI Yogyakarta merupakan institute seni paling tua dan paling lengkap jurusannya di Indonesia. Nah kaitannya dengan daerah Sulawesi Tengah beberapa program studi bias dibuka, di antaranya seni kriya, seni tari, teater, musik, seni rupa dan lainnya.  (JAMRIN AB)

Kamis, 26 Juli 2012

Ust. Djuhra, PEWARIS PAYUNG POLANTI MAGAU NGATA KAILI



Oleh: JAMRIN ABUBAKAR
DI usianya yang terbilang sepuh, tapi semangat dan memorinya masih tajam menceritakan beberapa perisitiwa perjuangan putra-putra Tanah Kaili melawan penjajah Belanda dan Jepang di Tanah Kaili. Namanya Ust. Djuhra salah satu anggota Laskar Merah Putih dari kesatuan Sigi Dolo, salah satu organisasi perjuangan zaman penjajahan.

Seyogianya Djuhra yang kini berusia 91 tahun itu tercatat sebagai salah satu anggota Legiun Veteran RI karena jasa-jasanya ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan atas nama Laskar merah Putih. Tetapi sayang sekali pemerintah tak begitu peduli, kalau buka para veteran itu sendiri yang proaktif mengurus yang cukup berbelit-belit dan belum tentu masuk. “Sudah berkali-kali diurus dengan melengkapi berbagai dokumen tapi tidak pernah mendapat tanggapan dari organisasi veteran. Pernah ada yang mau urus tapi katanya dibayar sekian,” ungkap Djuhra saat ditemui di kediamannya di Desa Pulu, Kabupaten Sigi belum lama ini.


Mengurus sebagai anggota veteran sudah lama ia lakukan, tapi berkasnya tak jelas. Itu pun dilakukan karena dorongan sejumlah pihak. Pada awalnya Djuhra tak mau urus soal dia sebagai anggota veteran atau tidak, karena menurutnya tak pernah berambisi soal masuk catatan veteran. Sebab ia memiliki alasan yang namanya perjuangan itu sudah merupakan kewajiban dan pengabdian pada negara. Tetapi kalau toh, memang ada yang urus dan bisa tercapai, katanya Alhamdulillah.

Pada masa mudanya, Djuhra bukan saja aktif dalam kelasyakaran, tapi bergerak di bidang dakwah baik di Pulu maupun di dataran Lalundu Rio Pakava. Di antara kawan seangkatan dalam Laskar Merah Putih yang tercatan sebagai anggota legiun Veteran yaitu Djaruddin Abdullah dan Junus Sunusi (keduanya sudah almarhum).

Selain dikenal sebagai Imam Tua Masjid Desa Pulu, Djuhra ayah dari delapan orang anak ini dikenal pula sebagai tokoh keadatan Pitunggota Tanah Kaili. Sebagai pelestari dan pewaris budaya, hingga kini ia masih menyimpan pusaka berusia ratusan tahun berupa guma, parang khas Kaili. Tetapi yang paling berharga adalah berupa pusaka Payung Polanti Magau yang usianya 800 tahun yang terbuat dari bambu kuning yang dipakai saat pelantikan Datu Pariri sebagai raja Kaili di Pulu. (JAMRIN AB)

Rabu, 18 Juli 2012

KETIKA TEATER MODERN MENYATU DALAM RITUAL BALIA KAILI

KETIKA TEATER MODERN MENYATU DALAM RITUAL BALIA KAILI

SENI tradisi Balia yang selama ini hanya dikenal sebagai ritual penyembuhan dalam masyarakat etnis Kaili yang selalu ditampilkan secara sakral sesuai tujuannya, tapi di tangan Erwin Sirajudin seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Balia telah menjadi seni pertunjukan yang saling menginteraksi antara aktor-aktor teater modern dengan Topobalia (pelaku tradisi Balia) dalam satu arena pertunjukan tanpa saling mengintervensi. 

Kedahsyatan itulah yang dipertunjukan Erwin Sirajuddin sang sutradara dalam naskah drama “Bali Iya” di arena Taman Budaya Sulawesi Tengah, Kota Palu, Rabu (18/7) malam yang disaksikan ratusan penonton. Pertunjukan tersebut merupakan rangkaian ujian tesis Erwin Sirajudin sebagai mahasiswa pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister seni di ISI Yogyakarta. Sejumlah seniman, aktivis seni, pemerhati dan masyarakat pencinta seni menyatu dalam kesaksian pertunjukan Bali Iya yang terkemas dalam konsep dramaturgi satu skenario.

Inti pesan dalam drama Bali Iya adanya pergulatan batin dan fisik seorang Tonadua (orang sakit) yang diperankan sang aktor Emhan Saja bersama istri (Selvina Cepi). Keaktoran Ehman bersama Selvina betul-betul penuh totalitas bukan saja memvisualkan apa yang tercakup dalam sekenario dan diinginkan sutradara, tapi sekaligus ia mampu membamngun komunikasi dengan penonton dan para Topobalia yang dipimpin Samran Daud Roca. Dialog-dialog yang dibangun dan  ekploitasi tubuh Emhan dan Cepi telah memvisualkan tentang sosok kegelisahan dan tak ada harapan untuk sembuh kalau tidak mencari alternatif.

Dalam pencariannya itulah kemudian hadir orang suci yang menurut tokoh  dokter (Mohammad Nawir Daeng Mangala) pengobatan Tonadua mesti dilakukan dengan cara khusus. Di situlah prosesi ritual adat Balia ditampilkan sesuai kelaziman dan sekaligus telah dikemas dalam skenario untuk seni pertunjukan teater modern sesuai harapan sutradara Erwin Sirajuddin, sehingga puncak agar Tonadua ini harus berubah dari kondisinya, ia melnjalani rangkaian upacara balia.
Pertunjukan tersebut berlangsung di tengah rintik hujan malam, tapi penonton rela kuyub menyaksikan bersatunya tradisi dan seni pertunjukan modern yang dikemas satu arena. 

Menurut guru besar ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Yudiaryani yang menjadi penguji tesis Erwin, menyatakan pertunjukan seni dengan mengambil spirit dari Balia telah memberi warna dan karakter yang sangat dahsyat. Sebab mengkolaborasikan tradisi dengan pertunjukan teater modern dalam satu arena yang masing-masing saling memahami peran yang dialkoni aktor merupakan satu karya yang luar biasa. 

“Apa yang telah ditampilkan tersebut, bukan saja mampu menyedot keseriusan penonton untuk tetap menyaksikan apa yang dipertunjukan, tetapi respon masyarakat sangat apresiatif walau dalam suasana hujan tapi tetap bertahan. Ini sebetulnya salah satu keberhasilan sebuah pertunjukan mampu menyedot perhatian penonton untuk ikut berinteraksi sebagai bagian pertunjukan dan itu terlihat dalam Bali Iya tersebut,” ungkap Yudiaryani sesaat setelah pertunjukan.

Menurutnya, konsep seni tradisi Balia ini sangat menarik dan menjadi khas karena dapat dikolaborasikan ke seni pertunjukan modern yang menghasilkan satu karya kontemporer. Tidak ada benturan satu sama lainnya walau dengan latar belakang berbeda antara actor-aktor dengan pelaku tradisi itu saling mengayam atau mengisi secara indah dalam menjalankan masing-masing peran. Apalagi secara tegas pimpinan Balia menyatakan pertunjukan ini merupakan satu rahmat dengan adanya pertemuan tradisi dan modern yang dapat memberi satu kekuatan baru. 

Sementara itu Erwin Sirajuddin (38) sebagai calon magister seni menyatakan konsep pijakan untuk menyatukan ritual Balia dengan seni teater dalam penggarapan Bali Iya tentunya ada harapan lahirnya kekuatan baru. Terutama adanya kesadaran estetika dan nilai-nilai esensi kebenaran kehidupan sebagai muatan tekstual dan kontektual yang memberi solusi kebaruan dalam seni teater konvensional menjadi teater terapi masa dakan dating. Mungkinkah? (JAMRIN AB)

MISTERI NEGERI SERIBU MEGALIT



DAFTAR ISI


      Pengantar Penulis
1.    Mencari Patung Megalitik di Behoa
2.    Asal Usul Tadulako Yang Sebenarnya
3.    Menhir Palindo Kisah Pahlawan Dalam Mitos Tanah Lore
4.    Tanah Lore Negeri Seribu Megalit
5.    Mpolenda Yang Terkutuk
6.    Tinggalan Purbakala di Kampung Vatunonju
7.    Eksotis Danau Pegunungan Lore Lindu
8.    Danau Poso, Sogili dan Legenda
9.    Sulawesi Tengah, Pusat Kebudayaan Austronesia

Sumber Tulisan
Riwayat Singkat Penulis