Kamis, 23 Januari 2014

MISTERI NEGERI SERIBU MEGALIT



Judul  Buku    :  MISTERI NEGERI SERIBU MEGALIT
Penulis           : Jamrin Abubakar
Tebal              : 79 halaman
Ukuran           : 14 X 20 Cm
Penerbit          : Ladang Pustaka, 2012
Harga             : Rp 35.000,-

Stok                : Tersedia


SULAWESI TENGAH yang eksotik memiliki mahakarya purbakala zaman megalitikum yang mengagumkan di dataran tinggi Tanah Lore yang tersebar di Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada Kabupaten Poso hingga Lembah Palu merupakan anugrah yang tak ternilai. Ribuan tahun Sebelum Masaehi di dataran tersebut terdapat peradaban sangat tinggi yang jejaknya hingga kini masih terlihat.
Namun yang jadi pertanyaan dari mana dan kemanakah mereka para pembuat megalit itu? Sebaran megalit berbagai bentuk, ukuran dan kegunaan itu bukan saja menjadi pusat kajian arkeologi, tapi sekaligus  menarik untuk kunjungan wisata budaya yang menyimpan mitos. Itulah  “misteri negeri seribu megalit.”

GURU TUA PAHLAWAN SEPANJANG ZAMAN



Judul Buku   :  GURU TUA PAHLAWAN SEPANJANG ZAMAN
Penulis        : Jamrin Abubakar
Tebal           : 107 halaman
Ukuran         : 14 X 20 Cm
Penerbit       : Ladang Pustaka, 2012

Stok             : Habis 


Buku ini menyajikan tentang sosok perjalanan dan pemikiran seorang gurubesar dari berbagai sisi yang disertai pandangan dan kesaksian dari sejumlah murid-muridnya. Sekaligus mengungkap sisi lain yang tak semua orang mengetahui terutama bagi generasi muda yang hidup pada saat tokoh besar itu telah tiada. Tetapi sosok dan mahakaryanya telah menjadi legenda sebagai “Pahlawan Sepanjang Zaman” yang melahirkan mahakarya bernama lembaga pendidikan Alkhairaat yang berpusat di Kota Palu dan kemudian menyebar ke sejumlah provinsi.
Dia adalah Guru Tua sebutan bagi Al-Alimul Allamah Al-Habib Sayed Idrus bin Salim Aldjufri (S.I.S Aldjufri) sangat dikenal di Sulawesi Tengah. Bahkan di sejumlah wilayah di Kawasan Timur Indonesia, namanya bukan saja dikenal sebagai ulama kharsmatik, tapi juga tokoh pendidikan, tokoh kemanusiaan, diplomat, pedagang, sastrawan dan berbagai sebutan lainnya. Gelar Guru Tua memiliki makna guru yang dituakan sama halnya sebutan “Tuan Guru,” bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat atau sebutan “Andregurutta” di Tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Hal ini  menunjukkan kalau Habib Idrus bin Salim Aldjufri memiliki kharisma dalam menjalankan dakwah Islam sepanjang hidupnya. Pemerintah menganugrahinya Bintang Mahaputra Adipradana tahun 2010.

PERJALANAN DAN PEMIKIRAN H. HAMID RANA MENULIS ZAMAN DENGAN IFTITAH



Judul Buku       : PERJALANAN DAN PEMIKIRAN H. HAMID RANA
                          MENULIS ZAMAN DENGAN IFTITAH
Editor               : Jamrin Abubakar
Tebal               :  283 halaman
Ukuran             : 14 X 20 Cm
Penerbit           : Yayasan Pendidikan Mitra Ilmu, 2011
Harga               : Rp 50.000,-

Stok                 : Tersedia


Dari ratusan kolom Hamid Rana yang terselamatkan dari arsip-arsip edisi Koran MAL, di sini dipilih sebanyak 101 tulisan dalam kurun waktu penulisan 1995-2001. Pemilihan tulisan masa tersebut untuk mewakili dua masa  perubahan sosial politik dari ujung kekuasaan pemerintahan Orde Baru (Orba) ke masa pemerintahan Reformasi, setidaknya tercermin pula dalam pilihan tema-tema tulisan Hamid Rana pada zamannya.
Tentunya dengan harapan pembaca dapat memahami suatu masa tentang beragam dinamika sosial, budaya, poilitik dan ekonomi pada saat kolom tersebut diterbitkan. Dalam sejarah perkembangan pers di Sulawesi Tengah, Hamid Rana termasuk salah satu tokoh penting dalam pembentukan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia Sulteng.

Judul Buku : MENGGUGAT KEBUDAYAAN TADULAKO DAN DERO POSO



Judul Buku       : MENGGUGAT KEBUDAYAAN TADULAKO DAN DERO
                           POSO
Penulis              : Jamrin Abubakar
Tebal                 : 111 halaman
Ukuran               : 14 X 20 Cm
Penerbit             : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah, 2011
Harga                 : 40.000,-

Stok                   : Tersedia


Buku ini berisi perdebatan atau polemik para tokoh budaya (budayawan) Sulawesi Tengah terhadap gagasan kontroversi seorang tokoh pers dan pendidikan H. Rusdy Toana (alm) tentang keinginan membentuk yang namanya “Kebudayaan Tadulako” pada tahun 1996. Gagasan yang ingin merangkul beberapa etnis dengan masing-masing latar belakang di Sulawesi Tengah dengan harapan  ada  kesepakatan satu kebudayaan bernama Tadulako.
Rusdy Toana  pencetus yang mendapat dukungan dari beberapa tokoh  Sulteng itu membuahkan polemik. Pro-kontra bukan saja di antara tokoh bersangkutan yang ikut membicarakan, tapi juga kalangan akademisi dan budayawan, secara terang-terangan menyatakan menolak gagasan Kebudayaan Tadulako. Dalam polemik ini melibatkan budayawan Sulteng, Prof.  Tjatjo Taha, ahli bahasa Dr. Hanafi Sulaiman, politisi senior H. Hasan Tawil, budayawan/sejarawan, Masyhuddin Masyhuda dan TS. Atjat. Mereka berpolemik dalam media dan berkahir tidak tercapainya apa yang diinginkan Rusdy Toana. Namun gagasan tersebut cukup melegenda sebagai Polemik Kebudayaan tingkat lokal.


Judul Buku : ORANG KAILI GELISAH (Catatan Kecil Seorang Wartawan)



Judul   Buku    : ORANG KAILI GELISAH (Catatan Kecil Seorang
                          Wartawan)
Penulis           : Jamrin Abubakar
Tebal              : 116 halaman
Ukuran            : 13 X 19 Cm
Penerbit          : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah, 2010
Harga             : Rp 35.000,-

Stok                : Tersedia


BUKU Orang Kaili Gelisah Catatan Kecil Seorang Wartawan merupakan kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan di surat kabar lokal   mengenai peristiwa seni dan budaya di Kota Palu. Temanya  memiliki kaitan dengan denyut “nadi” sosial budaya To Kaili (Orang Kaili) sebagai salah satu suku terbesar dan tersebar di Sulawesi Tengah, utamanya di Kota Palu. To Kaili yang  diidentifikasi  dengan  adat istiadat dan bahasa sendiri serta berbagai sub-dialek dan karakter tersendiri yang menunjukkan  sebagai suku sangat menarik dibicarakan. Meskipun  tulisan  yang terhimpun dalam buku ini terpisah satu sama lainnya atau tidak terfokus pada kajian tentang Kaili itu, setidaknya  mencerminkan sebuah “Kegelisahan” Orang Kaili dalam mengarungi dan menghadapi kebudayaan global.  Akibatnya, Kaili di antara beragam pertemuan budaya suku-suku lain yang mengindonesia  nyaris kehilangan identitas.
Salah satu indikasinya, soal bahasa Kaili yang penuturnya semakin berkurang  terutama di Kota Palu. Ancaman kepunahan bahasa Kaili bukan saja menjadi kegelisahan bagi pemerhati budaya, tetapi juga merupakan kegelisahan pemilik budaya Kaili itu sendiri karena mulai tercerabut dari akarnya. Ada banyak orang di Palu masih mengaku  Orang Kaili hanya karena kedua orang tuanya berlatar belakang suku Kaili, namun tidak bisa lagi berbahasa Kaili.