Kamis, 23 Januari 2014

MATINYA SANG TADULAKO (Sehimpun Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)



Judul Buku     : MATINYA SANG TADULAKO (Sehimpun Cerita Rakyat             
                       Sulawesi Tengah)
Penulis           : Jamrin Abubakar
Tebal              : 116 halaman
Ukuran           : 14 X 20 Cm
Penerbit         : Ladang Pustaka, 2013
Harga            : Rp 35.000,-

Stok              : Tersedia


Adapun ringkasan cerita dalam buku ini yaitu sebagai berikut:

MPOLENDA YANG TERKUTUK: Mpolenda seorang pemimpin otoriter yang sulit dikalahkan dalam peperangan, sehingga bertindak sewenang-wenang menguasai segala sumber ekonomi. Selain sombong dan takabur, juga menganggap dirinya paling berkuasa. Akhirnya Mpolenda bersama istri dan anaknya mendapat kutukan jadi patung megalit. Sampai sekarang patung tersebut dapat dilihat di Desa Wanga Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

GADIS KULAVI DALAM POHON: Perburuan yang dilakukan Sadomo, pemuda dari tanah Kaili sampai ke dataran Kulavi membuatnya tersesat di tengah hutan. Meskipun tidak mendapatkan binatang buruan, tapi seorang gadis cantik keluar dari dalam pohon yang kemudian dijadikan istri dan menjadi asal-usul suku Kulavi di Kabupaten Sigi.

TUMBAL DI PULAU PELING: Berawal dari musim paceklik, mengakibatkan Baku putra seorang pemimpin adat meninggal dunia. Tetapi kemudian dari dalam kuburnya tumbuh ubi besar yang kemudian menjadi sumber makanan pokok di Pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan. Konon itulah asal mula adanya Ubi Banggai yang dipercaya sebagai jelmaan dari manusia.

MATINYA SANG TADULAKO: Panglima perang yang tak pernah terkalahkan dalam berbagai perang antarsuku. Memiliki kesaktian yang sulit ditandingi lawan-lawannya, namun tiba masanya berakhir. Sang Tadulako mati tragis setelah kepalanya ditumbuk alu oleh kekasih yang dikhianatinya. Sampai sekarang patung Tadulako dapat dilihat di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso.

TRAGEDI YAMAMORE: Yamamore putri seorang Raja Towale melarikan diri dari istana demi menghindari perkawinan paksa. Dalam pelariannya, ia bersembunyi dengan cara mencemplungkan diri ke dalam telaga air asin. Maka sejak itulah Yamamore menghilang dan tempatnya dinamai pusat laut atau Pusentasi.

PERANG MAHADIYAH: Berawal dari keinginan Sang Pelaut menaklukkan Negeri Dampelas, akhirnya terjadi perlawanan dari Mahadiyah. Peperangan pun terjadi hingga telaga yang dijadikan area pertarungan kemudian menjadi Danau Dampelas di Desa Talaga.

SANG PUTRI DAN BENGGA BULA: Putri cantik dari Tanah Kaili diasingkan karena terserang penyakit cacar di tubuhnya. Dalam pengasingan itulah ia dikejar dan dijilat seekor Bengga Bula (kerbau putih), sehingga kulitnya sembuh. Sejak itu pula pihak raja dan keturunannya pantang makan daging kerbau putih.

PERKELAHIAN LABOLONG DENGAN LINDU: Berawal perkelahian Labolong (seeokor anjing raksasa) dengan Lindu (belut raksasa) di sebuah telaga kecil, akhirnya air meluap menjadi danau. Tempat tersebut kemudian dinamai Danau Lindu yang dalam bahasa setempat Lindu berarti belut.

LEGENDA SANG PALINDO: Patung megalit Palindo atau Molindo di Padang Sepe, dataran tinggi Bada yang mengisahkan tentang tokoh perlawanan terhadap serangan dari Kerajaan Luwu. Konon Palindo yang bentuk miring dengan tangah mengarah ke kelaminnya itu menunjukkan simbol persatuan orang Bada zaman dahulu tak mau ditaklukkan.

CERITA TENTANG KUCING KERAMAT: Seekor kucing menyelam ke dalam telaga mengambil jarum milik Sang Putri yang jatuh. Akibatnya, kucing itu basah kuyub dan tak lama kemudian hujan deras dan banjir datang sehingga terbentuklah sebuah danau besar. Dalam mitologi beberapa suku di Sulawesi Tengah, kucing masih disakralkan tidak boleh disakiti atau disiram karena dipercaya akan menimbulkan bencana.

PETUALANGAN SAWERIGADING DI KERAJAAN SIGI:
Saat akan dilakukan perlagaan ayam milik sang pelaut Sawerigading dengan ratu Ngilinayo, tiba-tiba terjadi gempa dahsyat. Memporak-porandakan negeri Lembah Kaili membuat kapal Sawerigading hancur dan banjir bandang tiba dan tanah longsor menimbun laut teluk Kaili menjadi lembah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar